Presiden Bank Sentral Eropa, Christine Lagarde, mengatakan bahwa euro memiliki potensi untuk menjadi alternatif yang lebih kuat dari dolar jika arsitektur keuangan dan keamanan kawasan euro diperkuat. Ini menandakan adanya optimisme jangka panjang terhadap posisi euro sebagai mata uang global.
Sementara itu, dolar Selandia Baru juga mencatatkan kinerja positif, sempat menyentuh level tertinggi enam bulan di angka $0,6031, meski akhirnya stabil di $0,5999. Pasar kini menantikan keputusan suku bunga dari Bank Sentral Selandia Baru, yang diperkirakan akan menurunkan suku bunga menjadi 3,25%. Keputusan ini akan memberikan sinyal arah kebijakan moneter yang dapat memengaruhi sentimen investor terhadap mata uang regional.
Penurunan Kepercayaan Global Terhadap Aset-AS
Dalam beberapa bulan terakhir, kombinasi antara kebijakan tarif global yang inkonsisten dan kekhawatiran fiskal telah memudarkan minat investor terhadap aset-aset AS. Dollar tertekan terhadap yen dan euro menjadi cerminan langsung dari merosotnya reputasi AS sebagai tempat aman bagi investasi global.
Kondisi ini menciptakan ketidakpastian yang lebih besar bagi pelaku pasar. Tidak hanya nilai tukar yang terpengaruh, tetapi juga arus modal internasional yang selama ini sangat bergantung pada stabilitas politik dan ekonomi AS. Jika ketidakpastian atas kebijakan fiskal dan perdagangan terus berlanjut, maka tekanan terhadap dolar kemungkinan besar akan semakin besar.
Secara keseluruhan, situasi ini menunjukkan pentingnya kestabilan kebijakan fiskal bagi kekuatan mata uang suatu negara. Ketika kepercayaan terhadap pengelolaan ekonomi terguncang, maka investor akan mencari alternatif yang lebih stabil—dan untuk saat ini, itu berarti dollar tertekan terhadap yen dan euro untuk waktu yang belum bisa dipastikan.
Investasi dan trading berisiko tinggi. Kinerja masa lalu tidak menjamin hasil di masa depan. Keputusan investasi adalah tanggung jawab Anda. Kami tidak bertanggung jawab atas kerugian yang mungkin timbul.
