Jemarimu.id – Harga emas (XAUUSD) kembali mencetak sejarah dengan melonjak ke level tertinggi sepanjang masa di kisaran $5.045 pada awal sesi Asia hari Senin. Lonjakan ini semakin menguat setelah harga menyentuh area ekstensi Fibonacci 2.618 di sekitar $5.079, yang secara teknikal sering dianggap sebagai zona jenuh beli (overextended). Kondisi ini memunculkan satu pertanyaan penting bagi para trader dan investor: apakah harga emas akan melanjutkan tren naiknya, atau justru mengalami retracement terlebih dahulu menuju area Fibonacci 1.618?

Secara teknikal, level Fibonacci 2.618 biasanya menjadi target akhir dari sebuah impuls bullish yang kuat. Pada grafik XAUUSD, pergerakan harga menunjukkan kenaikan tajam dari area konsolidasi sebelumnya, menembus resistance demi resistance tanpa koreksi berarti. Struktur candle yang terbentuk menunjukkan momentum beli yang sangat dominan, namun ketika harga mencapai area 2.618, tekanan jual mulai terlihat melalui munculnya candle dengan ekor atas yang lebih panjang. Ini mengindikasikan bahwa sebagian pelaku pasar mulai melakukan aksi ambil untung (profit taking).
Jika skenario retracement terjadi, maka area Fibonacci 1.618 menjadi zona yang menarik untuk diperhatikan. Level ini berada di kisaran support dinamis yang sebelumnya juga menjadi area konsolidasi minor. Secara teknikal, retracement ke area 1.618 masih tergolong sehat dalam konteks tren naik, karena hanya merupakan koreksi sementara sebelum potensi kelanjutan tren bullish berikutnya. Apabila harga mampu bertahan dan membentuk pola pantulan (rejection) di area tersebut, maka peluang untuk kembali menguji bahkan menembus level 2.618 tetap terbuka.
Dari sisi fundamental, terdapat beberapa faktor kuat yang menopang kenaikan harga emas saat ini. Pertama, harga emas melonjak ke rekor tertinggi sepanjang masa di sekitar $5.045 pada awal perdagangan sesi Asia hari Senin. Hal ini mencerminkan meningkatnya minat investor terhadap aset safe haven di tengah ketidakpastian global. Kedua, perundingan perdamaian antara Rusia dan Ukraina yang dijadwalkan berlanjut minggu depan turut mempengaruhi sentimen pasar. Meskipun harapan perdamaian bisa mengurangi ketegangan geopolitik, pasar masih menilai proses ini penuh risiko dan ketidakpastian, sehingga permintaan terhadap emas tetap tinggi.
Faktor ketiga yang tidak kalah penting adalah kekhawatiran pasar terhadap independensi The Federal Reserve. Munculnya isu bahwa kebijakan moneter dapat terpengaruh oleh tekanan politik menimbulkan keraguan terhadap kredibilitas bank sentral AS. Situasi ini cenderung melemahkan dolar AS dan meningkatkan daya tarik emas sebagai lindung nilai terhadap risiko kebijakan dan inflasi. Ketika kepercayaan terhadap institusi moneter menurun, emas sering kali menjadi tujuan utama aliran dana.
Dengan kombinasi antara faktor teknikal dan fundamental tersebut, potensi retracement dari level Fibonacci 2.618 menuju area 1.618 menjadi skenario yang cukup realistis. Namun, koreksi ini lebih tepat dipandang sebagai peluang beli (buy on dip) selama struktur tren naik belum rusak. Trader jangka pendek dapat mewaspadai sinyal pelemahan momentum di area 2.618, sementara investor jangka menengah hingga panjang tetap bisa mempertahankan bias bullish selama harga tidak menembus support kunci di bawah area 1.618.
Kesimpulannya, sentuhan harga XAUUSD di level Fibonacci 2.618 sekitar $5.079 merupakan pencapaian penting yang berpotensi memicu retracement teknikal ke area 1.618. Faktor geopolitik, rekor harga emas, serta kekhawatiran terhadap independensi The Fed masih menjadi pendorong utama tren naik emas. Dalam kondisi seperti ini, pasar kemungkinan akan bergerak dinamis antara fase koreksi sehat dan kelanjutan tren bullish, sehingga manajemen risiko dan disiplin dalam membaca level teknikal menjadi kunci utama bagi para pelaku pasar.
Investasi dan trading berisiko tinggi. Kinerja masa lalu tidak menjamin hasil di masa depan. Keputusan investasi adalah tanggung jawab Anda. Kami tidak bertanggung jawab atas kerugian yang mungkin timbul.